84. AL MALIKUL MULKI (Dzat Yang Maha Memiliki Kerajaan) Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Memiliki Kerajaan. Dia akan memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan akan mencabut kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki. Rasulullah SAW bersabda : “Didalam diri manusia terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka akan menjadi baik seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila daging itu buruk, maka akan menjadi buruk seluruh anggota tubuhnya. Dan segumpal daging itu adalah hati”. Apabila seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka Allah Ta’ala akan memberikan kerajaan didalam hatinya, sehingga dia dapat memimpin dirinya sendiri. Dan apabila dia telah dapat memimpin dirinya sendiri, maka dia akan dapat memimpin keluarganya. Dan apabila dia dapat memimpin keluarganya, maka dia akan dapat memimpin orang lain. Didalam hidup ini kita mempunyai musuh yang selalu mengajak kepada kesesatan, yaitu hawa nafsu. Sehingga hawa nafsu inilah yang paling banyak merusak (menjerumuskan) manusia. Oleh sebab itu apabila hawa nafsu sudah bisa terkendali, maka Allah Ta'ala akan memberikan kerajaan didalam hatinya, sehingga hawa nafsunya akan tunduk kepada hatinya. Sedangkan bagaimana caranya kita bisa mengendalikan hawa nafsu? Hawa nafsu bisa dikendalikan dengan akal yang telah diisi dengan tiga ilmu. Yaitu ilmu mengenal Allah Ta’ala, Al Qur’an dan Al Hadits. Apabila ketiga ilmu ini telah kita fahami dengan sebenar-benarnya, maka ketiga ilmu ini bisa kita jadikan sebagai senjata untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena dengan ketika ilmu inilah kita bisa menjadi faham (sadar) bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, bukan kehidupan dunia. Bagi orang-orang yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka dia tidak dapat memimpin dirinya untuk melakukan ketaqwaan dan tidak memiliki akhlaq yang mulia. Sehingga perbuatannya selalu bertentangan dengan hukum-hukum Allah Ta’ala dan dia banyak sekali melakukan segala sesuatu berdasarkan hawa nafsunya, sehingga dimata manusia dipandang rendah dan tidak ada satupun yang mau dipimpinnya termasuk keluarganya sendiri. Dan yang paling berbahaya, biasanya orang seperti ini ingin menjadi pemimpin. Padahal pada dasarnya semua orang tidak mau dipimpin olehnya, kecuali orang-orang yang sama yaitu yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Itupun mereka tidak mau dipimpin secara ikhlas melainkan karena mengharapkan keuntungan-keuntungan dunia. Dan apabila kita mempunyai pemimpin yang tidak baik, dzolim atau fasik, maka sebetulnya itu merupakan azab dari Allah Ta’ala. Sebetulnya pemimpin disuatu daerah (atau yang lebih kecil seperti lingkup keluarga) tergantung dari masyarakatnya. Apabila masyarakatnya dalam keadaan dzolim, maka Allah Ta’ala akan memberikan kepada mereka pemimpin yang dzolim. Apabila masyarakatnya orang-orang yang selalu mengikuti kefasikan, maka Allah Ta’ala akan memberikan pemimpin kepada mereka orang yang fasik pula. Begitupun juga apabila masayarakatnya beriman dan bertaqwa, maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan kepada mereka pemimpin yang beriman dan bertaqwa pula. Oleh sebab itu apabila kita ingin punya pemimpin yang baik, maka kita sendiri juga harus menjadi orang yang baik. Karena Islam mengajarkan untuk memulai dari diri sendiri. Hal ini pernah dibuktikan oleh baginda Rasulullah SAW. Beliau memimpin orang-orang yang beriman dan bertaqwa, sehingga mudah sekali untuk diatur. Apabila beliau mengajak umatnya untuk mematuhi suatu hukum, beliau cukup menyampaikan ayat-ayat Allah Ta’ala. Dan mereka semua akan mengikutinya dengan ikhlas dan senang hati. Karena pada dasarnya mereka semua beriman kepada Allah dan ingin melakukan ketaqwaan-ketaqwaan kepadaNya. Mereka melakukan semua itu karena mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala, sehingga mereka bisa menyadari bahwa apapun yang mereka terima didunia ini adalah pemberian Allah Ta’ala. Setelah itu dengan kesadarannya sendiri mereka ingin untuk membalas kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala tersebut yang telah memberikan segala sesuatu kepada mereka. Sedangkan bagaimana caranya bertaqwa, semuanya tercantum didalam Al Qur’an. Karena Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang ingin bertaqwa. Pertama sekali yang diinginkan oleh Allah Ta’ala adalah : “Jangan sekali-kali menyekutukan Aku”. Karena Allah sangat murka jika disekutukan. Setelah itu menjalankan tugas sebagai seorang manusia adalah beribadah dan ta’at kepadaNya. Karena tidaklah Allah Ta’ala menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaNya. Dengan kata lain Allah Ta’ala menginginkan agar kita selalu dalam ridhoNya. Firman Allah dalam Surat Adz Dzariyat (51) : 56 56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Akan tetapi selama ini kita hanya mencari keridhoan manusia dengan menjaga penampilan, berusaha menyenangkan manusia, dan lain sebagainya, akan tetapi Allah Ta’ala sangat murka kepada kita. Apabila kita melakukan hal-hal demikian, maka kita akan celaka didunia dan diakhirat. Padahal seharusnya yang kita utamakan adalah keridhoan Allah Ta’ala. Walaupun manusia mencaci maki kita, menghina kita, tidak senang dengan kita, tidak menjadi masalah yang penting Allah Ta’ala ridho kepada kita. A. Sisi Tafakkurnya Berapa banyak kita terkalahkan oleh hawa nafsu, dan berapa banyak nafsu yang bisa kita kendalikan sehingga apabila kita sudah bisa mengendalikan hawa nafsu, maka kita sudah bisa memimpin diri sendiri? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan hamba-hambaMu yang dapat mengendalikan hawa nafsu sehingga kami tidak terjerumus kedalam kefasikan. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin apabila dia bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka Allah Ta'ala akan menjadikan hatinya sebagai raja, sehingga hawa nafsunya akan tunduk kepada hatinya. Akan tetapi jika dia tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka hatinya dan anggota badannya akan tunduk kepada hawa nafsunya. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia selalu berusaha untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya, sehingga dia-pun akan bersungguh-sungguh untuk mempelajari tiga ilmu. Yaitu ilmu mengenal Allah Ta'ala, Al Qur’an dan Al Hadits. Karena dengan ketiga ilmu inilah yang bisa dipakai sebagai alat untuk mengendalikan hawa nafsu. Dan setelah dia dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka dia-pun membuka hatinya dan menyiapkan dirinya untuk menjadi perantara Allah Ta'ala didalam menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Sehingga Allah Ta'ala akan memberikan peluang-peluang amal sholeh kepadanya. Baik dengan harta, ilmu atau tenaga. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat mengenal-Mu, memahami Kitab-Mu dan sunnah Rasul-Mu sehingga kami dapat mengendalikan hawa nafsu kami, kemudian dapat memimpin diri kami sendiri menuju ketaqwaan kepada-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Setelah dia menjalankan itu semua, yaitu berusaha mengendalikan hawa nafsu dan membuka hati serta menyiapkan diri untuk menjadi perantara Allah Ta'ala, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Setelah itu dia berharap agar kiranya Allah Ta'ala memperkuat lagi hatinya, sehingga hawa nafsunya semakin terkendali dan bisa lebih banyak melakukan amal-amal sholeh. Rasulullah SAW berdo’a : “Ya Muqollibal Quluub (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati), tetapkanlah hatiku dalam keimanan dan kebenaran”. G. Sikap Orang Mukhlis Setelah dia bertawakkal, maka masalah hasilnya dia terima dengan ikhlas. Apabila dia belum dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka dia akan berusaha untuk menambah dan meyakini ketiga ilmu diatas. Dan apabila dia bisa mengendalikan hawa nafsunya, dia akan berusaha untuk mencari amal dengan sebanyak-banyaknya. Apabila dia dapat mengendalikan hawa nafsunya dan bisa melakukan kebaikan-kebaikan, maka dia sangat bersyukur kepada Allah Ta'ala. Karena dia yakin bahwa itu semua tidak bisa dia lakukan tanpa izin dan pertolongan Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Malikul Mulki Apabila ia sudah menjadi kholifah, maka akan nampak ketenangan jiwa pada dirinya, dan dengan ketenangan jiwa itu dia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dengan kata lain hawa nafsunya akan tunduk pada hatinya, sehingga dia dapat memimpin dirinya. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Malikul Mulki Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk membantu manusia agar mereka dapat mengendalikan hawa nafsu mereka, dan mengajarkan kepada mereka tentang mengenal Engkau, memahami Al Qur’an dan sunnah Rasul-Mu. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya hawa nafsu itulah yang akan menggelincirkan mereka kedalam jurang neraka.